Beranda > Mushola Hikmah > Left-handedness, Just A Lil Bit :)

Left-handedness, Just A Lil Bit :)

Seperti yang telah kita ketahui, left-handedness, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan kidal dalam bahasa sendiri, adalah “kekhususan” pada seseorang yang menyebabkannya lebih banyak menggunakan tangan kiri daripada tangan kanannya (sebenarnya tidak hanya tangan, kaki pun demikian). Berbagai pendapat muncul mengenai penyebab “kekhususan” ini. Ada yang berpendapat penyebab utama adalah genetis atau keturunan. Ada juga yang berpendapat bahwa faktor lingkungan yang lebih berpengaruh. Terlepas dari berbagai pendapat tersebut, menurut sebuah artikel yang saya baca, kidal ini dapat terjadi apabila otak kanan yang mengatur tubuh bagian kiri lebih dominan.

Berdasarkan pengamatan terhadap orang-orang yang bertangan kidal (left-handers) di sekitar saya, ternyata mereka memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya menggunakan tangan kiri untuk segala hal. Namun ada juga yang menggunakan tangan kanan untuk aktivitas tertentu seperti makan dan menulis, sedangkan aktivitas lain tetap menggunakan tangan kiri. Menurut pengakuan salah seorang kawan yang bertangan kidal, meskipun telah terbiasa makan dan menulis dengan tangan kanan, tetap saja merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang salah. Kesulitan-kesulitan juga ia temui dalam beberapa aktivitas yang mungkin bagi kita yang right-handers adalah hal mudah, seperti menggunakan gunting dan mouse komputer. Mungkin ketidaknyamanan semacam itulah yang menyebabkan beberapa left-handers tetap menggunakan tangan kirinya untuk semua aktivitas. Apakah yang demikian dapat dijadikan alasan untuk mempertahankan kebiasaan tersebut?

Dalam Islam, agama yang sempurna, hal yang tampaknya sederhana seperti penggunaan tangan ini pun diatur dengan jelas. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mencontohkan penggunaan tangan kanan untuk perkara-perkara yang baik dan tangan kiri untuk hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang kotor atau najis.

“Bahwa tangan kanan Rasulullah dipergunakan dalam bersuci dan makan. Adapun tangan kiri, dipakai untuk membersihkan bekas kotoran dari buang hajat dan perkara-perkara yang najis.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)

“Jika salah seorang dari kalian akan makan, hendaknya makan dengan tangan kanan. Dan apabila ingin minum, hendaknya minum dengan tangan kanan. Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya” (HR. Muslim)

“Rasulullah melarang kami menghadap kiblat saat buang air besar, kencing dan melarang kami melakukan istinja’ dengan tangan kanan…” (HR. An-Nasa’i)

Tidak hanya dalam hal penggunaan tangan, Rasulullah pun senantiasa memuliakan anggita tubuh sebelah kanan yang lain dengan cara mendahulukannya untuk segala sesuatu yang baik.

Hadist riwayat Aisyah Radiallahu ‘Anha, ia berkata: ”Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. suka memulai dengan yang kanan saat bersuci, menyisir rambut dan memakai sandal.” (Hadist Shahih Muslim)

Dari Ali Radiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kalian memakai sandal, hendaknya ia mendahulukan kaki kanan, dan apabila melepas, hendaknya ia mendahulukan kaki kiri, jadi kaki kananlah yang pertama kali memakai sandal dan terakhir melepaskannya.” (Muttafaq Alaihi)

”Jika kalian akan mengenakan pakaian dan berwudhu, mulailah dengan sebelah kanan kalian” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dengan sanad shahih)

Kemuliaan tangan/sebelah kanan ini juga jelas disebutkan dalam Al Qur’an.

”Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai, dalam surga yang tinggi.” (QS. Al Haaqqah: 19-22)

Demikian, cukup jelas betapa kita sebagai muslim harus senantiasa memuliakan tangan kanan (dan anggota badan sebelah kanan lainnya) dalam keseharian kita dengan cara menggunakannya dan/atau mendahulukannya untuk perkara yang baik. ”Kekhususan” yang dialami oleh sebagian saudara kita (mungkin juga Anda) seperti kidal bukanlah alasan untuk menjadikannya sebagai pembenaran terhadap kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan sunnah. Tetapi jangan kemudian berkecil hati. Kita harus yakin bahwa hal tersebut telah ditetapkan oleh Allah tanpa kesia-siaan dan penuh hikmah.

”Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah.” (QS. Shaad: 27)

Kesabaran dan keteguhan hati untuk senantiasa menjalankan yang sunnah, meskipun lebih sulit tentunya akan memberikan lebih banyak hikmah, seperti pahala, sesuai janji Allah:

”Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 96)

Tulisan ini tidak dibuat untuk mendiskreditkan pihak tertentu, hanya untuk mengingatkan, terutama kepada diri sendiri, agar senantiasa memperhatikan adab dalam keseharian.

Sumber gambar di sini.

Iklan
Kategori:Mushola Hikmah Tag:,
  1. April 14, 2010 pukul 1:15 pm

    MasyaAllah, artikel yg bermanfaat.
    Tapi, kadang saya pikir perlu sedikit melatih tangan kiri sesekali untuk berjaga-jaga kalau tangan kanan kita sedang tidak dapat digunakan (misal terluka). Makanya saya sering menyikat gigi dengan tangan kiri spy tidak terlalu kaku. 😀

    • April 14, 2010 pukul 1:25 pm

      Terima kasih kunjungannya…
      Hmm, begitu ya? Berdoa saja semoga tangan kanan kita selalu dalam keadaan baik agar tak perlu menggunakan tangan kiri kita utk hal2 yang seharusnya tdk dilakukan dengan tangan kiri 🙂

  2. April 14, 2010 pukul 3:44 pm

    gagal pertamax 😦

    • April 14, 2010 pukul 3:45 pm

      nasib baik blum berpihak pada anda, gan 😛

  3. April 14, 2010 pukul 3:46 pm

    mikir… 😕

  4. April 14, 2010 pukul 4:18 pm

    ane msh piyeee gitu dgn tuntunan penggunaan anggota tubuh bagian kanan ini… yg jd pertanyaan adalah apakah bersuci dari hadats dan najis itu dianggap sebagai sesuatu yg tidak mulia? padahal justru tanpa bersuci itulah yg tidak mulia… jd mengapa kok anggota tubuh yg kiri dianggap bukan sebagai bagian yg tidak mulia? dan mengapa harus digeneralisir terhadap “semua” anggota tubuh? pertanyaan yg simple saja, jantung letaknya dimana? kita berpikir logis menggunakan otak bagian mana? apakah mau mata kita yg sebelah kiri ditidakfungsikan?

    ntahlah, ane msh kurang sreg dengan sesuatu yg mungkin seharusnya berhukum boleh (jaiz), tapi malah lebih dicondongkan ke sunnah… salah satu contoh yg lainnya adalah poligami dan poligami itu jaiz, bukan sunnah… memang benar Rasul melakukannya, tp tidak semua hal detail yg Rasul lakukan itu bisa dianggap sebagai suatu sunnah… mungkin cukup disebut sebagai sunnahnya hukum Allah, semisal: bernapas, tidur, bersuci dari kotoran itu sehat krn menjauhkan dari penyakit, dsb…

    kembali ke penggunaan tubuh bagian kanan… ane pikir ini cukup merupakan konvensi adab umat Rasulullaah yg membedakannya dr golongan yg lain… jd tidak perlu digeneralisir untuk semua aktivitas bahwa bagian tubuh sebelah kiri selalu dianggap kurang mulia dibandingkan sebelah kanan… jika tidak demikian, maka apakah anggota tubuh bagian kiri tidak mendapatkan haknya? bukankah kita juga disunnahkan untuk bersikap adil terhadap apapun? termasuk tubuh kita sendiri tentunya…

    CMIIW… *masih belajar tentang bagaimana sebaiknya hidup scr kaffah via Islam*

    • April 15, 2010 pukul 7:50 am

      gini pak, yg pnah saya baca, penggunaan tangan kiri utk hal2 yg berkaitan dg najis tujuannya adalah utk memuliakan tangan kanan. coba sekarang pikir deh, apa kita mau makan dan istinja’ dengan tangan yg sama? padahal sunnahnya adalah makan langsung dengan tangan, bukan dengan sendok.

      “…sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya” -> ini jelas sekali bahwa makan dengan tangan kiri itu spt halnya setan. apakah kita mau meniru2 perbuatan setan?

      “Jika kalian akan mengenakan pakaian dan berwudhu, mulailah dengan sebelah kanan kalian” -> ini jelas merupakan tuntunan. bukan sekedar boleh/mubah. bukankan ketika kita berwudhu dan mandi wajib (bersuci) semuanya didahului bagian yg kanan?

      banyak sekali sunnah yang mungkin kita sendiri masih bingung apa faedahnya, misal: tidur miring ke kanan, dilarang meniup makanan yg masih panas, makan dengan tangan kanan (langsung tanpa sendok), makan dalam keadaan duduk, dll. klo saya siy yakin saja, di balik ketidaktahuan kita akan hal2 tsb, pasti ada faedahnya. toh lama kelamaan dg hasil berbagai penelitian diketahui jg manfaat2 di balik sunnah2 tsb, misalnya terdapatnya enzim yg sangat baik utk pencernaan di tangan kita.

      Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

      “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun”
      -HR Ibnu Majah (no. 209), pada sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, oleh karena itu syaikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab “Shahih Ibnu Majah” (no. 173)-

      Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ditujukan sebagai syariat bagi umat Islam

      klo anda menganalogikan dg poligami, itu “agak” jauh. dalam poligami itu ada syarat2 yg menurut saya “cukup” berat. sunnah2 spt di atas berkaitan dg adab dalam keseharian kita, yang saya rasa tidak membutuhkan persyaratan yg berat. apa2 yg ada pada Rasulullah adalah hal2 yang baik dan sudah seharusnya kita contoh, krn beliau adalah suri tauladan kita, bahkan untuk hal2 kecil macam ini. bismillah saja, semoga dg mencontoh beliau, kita mendapat kebaikan.

      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al-Ahzaab: 21).

      terus terang saja, artikel ini terpikir ketika beberapa waktu lalu ketika saya makan (dg tangan kanan) secara reflek saya mengambil minum dengan tangan kiri dan meminumnya tanpa memindahkan gelas ke tangan kanan yg saat itu belepotan nasi, kemudian teman saya yang kebetulan adalah seorang kidal mengingatkan saya: minum koq pake tangan kiri…that’s why saya terinspirasi menulis artikel ini.

      jazakumullah khair.

      sumber: http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-menghidupkan-sunnah-rasul.html

  5. April 15, 2010 pukul 8:22 am

    jadi ini komeng2an terpanjang itu…

    ijin nyimak dulu agan2.

    • April 15, 2010 pukul 8:23 am

      he eh, mangga disimak, gan 🙂

      *keknya artikelnya malah kalah panjang tuh, hihihi* 😆

  6. masher
    April 20, 2010 pukul 10:01 pm

    mantap betul tulisannya. lanjutkan!
    teringat nasehat takmir masjid ketika mengingatkan jama’ah ifthar agar minum dengan tangan kanan. pada saat itu hampir semua jama’ah makan tanpa menggunakan sendok yang jika minum dengan tangan kanan otomatis akan mengotori gelas. sang takmir bilang begini: “lebih baik mengotori gelas daripada mengotori sunnah”. sampai sekarang pun masih ingat perkataan beliau, apalagi kalau sedang makan (hungry)

    • April 21, 2010 pukul 7:24 am

      yak, betul 😉
      kadang2 emang kita ga sadar, apalagi klo kepedesan..hehe

  7. April 21, 2010 pukul 1:09 am

    wah klo begitu, didikan keluarga utk memakai tangan kanan sejak kecil adalah utama..tp bgimana klo ada yg bilang masalah genetis?wah itu perlu diskusi,hehehe

    • April 21, 2010 pukul 7:30 am

      coba baca balasan komentar ke-2 saya di atas, yg mengingatkan saya utk minum dg tangan kanan adalah kawan saya yg kidal.

      meskipun beliau kidal, tp tetap makan dan menulis dangan tangan kanan loh. jd waktu awal kenal, bahkan saya tdk menyadari klo beliau adalah seorg kidal.

      ya, mungkin memang ada faktor genetis, yg pernah saya baca, tanda2 kidal ini sudah terlihat sejak umur 2 tahun, dan akan permanen setelah umur 6 tahun. jd, klo nanti anak2 kita menunjukkan gejala ini, kita tetap harus melatihnya menggunakan tangan kanan utk hal2 yg memang sudah seharusnya dilakukan dg tangan kanan…

      • Juni 6, 2010 pukul 8:59 am

        wew..baru baca balasannya hari ini..:D

  8. jong celebes
    Juni 14, 2010 pukul 7:52 pm

    hmm…tulisan yang bagus, perlu respon dari orang kidal betulan, biar lebih fair dan membuka cakrawala…

    • Juni 17, 2010 pukul 7:36 am

      wkwkwkwk…ada orang kendari kesasar di sini
      lha yo silakan buat responnya, kalau perlu bikin blog baru, toh panjenengan salah satunya, hehe 😆

  9. jong celebes
    Juni 18, 2010 pukul 10:02 pm

    woo…kuwalat kowe…wani karo bojone…

    • Juni 21, 2010 pukul 10:35 am

      ampun, mas…

  10. Anonim
    Maret 24, 2013 pukul 8:42 pm

    wh, keren artikel nya, brarti hruz ngrangin nulis kiri donk..
    🙂

  11. Maret 24, 2013 pukul 10:42 pm

    kren artikel nya..
    brguna bget nie.
    brarti msti ngrangin nulis kiri, dan yg left lainya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: