Oleh: Melati | September 25, 2008

Nasehat Kakek

Kakek, yang saat itu pasti sudah sangat lemah, dibantu nenek untuk duduk di kursi. Kemudian, beliau meminum segelas susu yang memang sudah disiapkan nenek sebelumnya. Sebenarnya, aku juga berada di sana, tapi tak banyak yang kulakukan. Usiaku baru sekitar dua tahun. Itulah satu-satunya memoriku yang masih tersisa tentang kakek. Karena tak lama setelah itu, Allah memanggil beliau kembali. 

 

Meskipun kakek tak lagi bersama kami, semakin hari aku merasa semakin mengenal beliau melalui cerita-cerita ibu. Yang mengesankan adalah tentang perjuangan beliau saat komunisme merajalela di Indonesia. Kakek harus tidur berpindah-pindah dari rumah tetangga yang satu ke yang lain, bahkan tak jarang pula di kandang ternak. Bukan tanpa alasan, tapi karena setiap malam pria-pria berpedang datang mencari kakek. Kakekku, yang seorang guru agama, memang sering mencegah orang-orang menjadi bagian dari komunis dengan mengajarkan Islam kepada mereka.

 

Ibu juga bercerita bagaimana kakek dulu sering menasehati putra putrinya. Ada tiga nasehat kakek yang selalu ibu ingat, dan Insya Allah akan selalu dijalani:

 

·         Jangan pernah meninggalkan sholat,

·         Jangan sombong, dan

·         Harus jujur.

 

Ternyata serupa dengan nasehat Luqman:

 

”Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 17-18)

 

Ibu menyampaikan ini kepadaku dengan harapan yang sama seperti harapan kakek kepada ibu dan putra putrinya yang lain. Insya Allah


Tanggapan

  1. …jadi inget almarhum kakekku..


Beri tanggapan

Your response:

Kategori